NON SCHOLAE SED VITAE DISCIMUS ======= "belajar bukan untuk nilai, tapi ... untuk hidup" ======= :)

Monday, July 12, 2010

Memadu Gerak

Kita pernah mempelajari bahwa suatu partikel/benda dapat melakukan gerak satu dimensi (Gerak Lurus), baik itu Gerak Lurus Beraturan (GLB) maupun Gerak Lurus Berubah Beraturan (GLBB). Posting-an kali ini, saya akan membahas gerak dua dimensi (Gerak pada bidang datar). Gerak ini terjadi bila suatu benda yang secara serentak/bersamaan melakukan dua gerak lurus dengan arah berbeda. Contoh gerak yang disebutkan di atas dalam keseharian diantaranya : Gerak suatu perahu ketika menyeberangi sungai, Gerak Parabola.

Perpaduan GLB dan GLB
Perhatikan gerak di bawah ini, yang sudah digambarkan dalam bentuk vektor :

Gerak resultannya vR adalah sebuah gerak lurus beraturan juga. Agar lebih memahaminya, silahkan coba latihan soalnya di sini


Perpaduan GLB dan GLBB
Bila dua buah gerakan yaitu Gerak Lurus beraturan (GLB) dengan Gerak Lurus Berubah Beraturan (GLBB) dipadukan, maka akan terbentuk Gerak Parabola.
Kali ini saya buatkan ringkasan gerak parabola, berikut latihan soalnya download

Download Materi Memadu Gerak

read more >>

Thursday, July 8, 2010

Pengukuran

Dalam kegiatan sehari-hari, kita sering dihadapkan pada suatu proses yang dinamakan pengukuran. Dalam pengukuran kita dapat mengetahui kuantitas suatu besaran dengan menggunakan alat ukur.
Posting kali ini akan saya berikan cara pengukuran suatu besaran dengan menggunakan Jangka Sorong (vernier caliper) dan mikrometer skrup (micrometer screw).

Gambar 1. Contoh Pengukuran dengan Vernier caliper

Gambar 2. Contoh Pengukuran dengan Micrometer screw

Bersama postingan ini, saya berikan program flash yang dapat didownload. Bagi yang berminat silahkan download di sini





read more >>

Friday, July 2, 2010

Walker Robot ver.1

This circuit is pretty simple (no reverse, no turning, only 2 chips), so it was just what I needed for this project. A number of other folks had touted the use of 74*245 chips for motor drivers, so I changed Wilf's circuit in that direction. It turns out this (like many things in life) had been done before -- here is a fairly "traditional" circuit layout:

While this layout is simple to build on a breadboard, it's a mess if you build your own PCBs, as I do (a number of jumpers are required). I modified the traditional layout to come up with a simpler PCB design (look, Ma, no jumpers!):download

Essentially all I did was to re-route the path that the quadcore process takes through the 74*14 chip -- rather than running down one side of the chip, then down the other, in my layout it "zig-zags" from side to side. I wound up building this circuit in a ".1" and ".2" variant; the ".2" version has provisions for (i.e., sockets for) filtering capacitors on chip power lines, the ".1" doesn't. Note that you can avoid the clutter of these capacitors if you buy IC sockets with power filtering capacitors built in (tho' these sockets cost about $2 US each, vs. a few cents for "plain" sockets).
Here's the life-size PCB "artwork" for the Walker 2:14:1.2 circuit. A higher-res (x4) version is available here.
I make the PCB via the "Press-N-Peel" method, and can repeatably produce these cards without much trouble.

Here are pictures of the top and bottom of a populated Walker 2:14:1.1 PCB, on a 1/4" grid.

Here's how to lay out the components on a Walker 2:14:1.2 PCB. download

Here, the D1 diodes are small (optional) indicator LEDs, D2 diodes are small-signal diodes (1N4148, or equiv.), C2 are (optional) filter capacitors (I use 0.22 uF), C1 are the quadcore timing capacitors, R1 are the quadcore timing resistors, and R2 are current-limiting resistors (1 KOhms) for the LEDs. Note that the filter capacitors (C2) always face consistent polarity power, so you can use polarized capacitors for them if you like; the timing capacitors (C1) see varying polarities as a normal part of quadcore function, and so must be monolithic non-polar caps.
The values for C1 and R1 determine the neuron firing times, and so are functions of the gear motors you use and the voltage you're running this circuit at. I use Mac floppy eject motors (which are efficient, if a bit slow) and run the circuit at 5V, and find that C1 = 0.22 uF and R1 = 2.2 MOhm works well for me. Your mileage may vary.
Note that the 74*14 and 74*245 ICs are "socketed," both to protect the ICs during soldering, and to allow for experimentation with IC subfamily. Similarly, the timing resistors and filter capacitors are plugged into individual sockets to allow for tinkering.
As is mentioned elsewhere, the 8-pin DIP socket allows a variety of "brain" cards to be swapped on and off a given walker.
For more information...

You can think of this circuit in two parts -- quadcore and driver. The 74*14 quadcore circuit is explained here; while the 74*245 driver circuit is explained here.
Andrew Miller used to have a site up with a walker tutorial; his tutorial was adopted by Bram Van Zolen here when Andrew shut down his site. Andrew's tutorial is educational, but pretty font-intensive. Less "busy" versions are here and here. Note that Andrew's tutorial is based around an earlier version of a 74*14 quadcore, with 74*245 driver (essentially an older variant of the Walker 2:14:1 circuit, with manual PNC circuitry).


WalkerRobot1 Schematic

read more >>

Thursday, July 1, 2010

Nilai Seikat Kembang

Seorang pria turun dari sebuah mobil mewah yang di parkir di depan kuburan umum. Pria itu berjalan menuju pos penjaga kuburan. Setelah memberi salam, pria yang ternyata adalah sopir itu berkata,"Pak, maukah Anda menemui wanita yang ada di mobil itu ? Tolonglah Pak, karena para dokter mengatakan sebentar lagi beliau akan meninggal !"

Penjaga kuburan itu menganggukkan kepalanya tanda setuju dan ia segera berjalan di belakang sopir itu. Seorang wanita lemah dan berwajah sedih membuka pintu mobilnya dan berusaha tersenyum kepada penjaga kuburan itu sambil berkata, "Saya Ny . Steven. Saya yang selama ini mengirim uang setiap dua minggu sekali kepada Anda. Saya mengirim uang itu agar Anda dapat membeli seikat kembang dan menaruhnya di atas makam anak saya. Saya datang untuk berterima kasih atas kesediaan dan kebaikan hati Anda. Saya ingin memanfaatkan sisa hidup saya untuk berterima kasih kepada orang-orang yang telah menolong saya."

"O, jadi Nyonya yang selalu mengirim uang itu ? Nyonya, sebelumnya saya minta maaf kepada Anda. Memang uang yang Nyonya kirimkan itu selalu saya belikan kembang, tetapi saya tidak pernah menaruh kembang itu di pusara anak Anda." jawab pria itu.

"Apa, maaf ?" tanya wanita itu dengan gusar. "Ya, Nyonya. Saya tidak menaruh kembang itu di sana karena menurut saya, orang mati tidak akan pernah melihat keindahan seikat kembang.
Karena itu setiap kembang yang saya beli, saya berikan kepada mereka yang ada di rumah sakit, orang miskin yang saya jumpai, atau mereka yang sedang bersedih. Orang-orang yang demikian masih hidup, sehingga mereka dapat menikmati keindahan dan keharuman kembang-kembang itu, Nyonya," jawab pria itu.
Wanita itu terdiam, kemudian ia mengisyaratkan agar sopirnya segera pergi.

Tiga bulan kemudian, seorang wanita cantik turun dari mobilnya dan berjalan dengan anggun ke arah pos penjaga kuburan.
"Selamat pagi. Apakah Anda masih ingat saya ? Saya Ny.Steven. Saya datang untuk berterima kasih atas nasihat yang Anda berikan beberapa bulan yang lalu. Anda benar bahwa memperhatikan dan membahagiakan mereka yang masih hidup jauh lebih berguna daripada meratapi mereka yang sudah meninggal.

Ketika saya secara langsung mengantarkan kembang-kembang itu ke rumah sakit atau panti jompo, kembang-kembang itu tidak hanya membuat mereka bahagia, tetapi saya juga turut bahagia.
Sampai saat ini para dokter tidak tahu mengapa saya bisa sembuh, tetapi saya benar-benar yakin bahwa sukacita dan pengharapan adalah obat yang memulihkan saya!"

Jangan pernah mengasihani diri sendiri, karena mengasihani diri sendiri akan membuat kita terperangkap dikubangan kesedihan. Ada prinsip yang mungkin kita tahu, tetapi sering kita lupakan, yaitu dengan menolong orang lain sesungguhnya kita menolong diri sendiri.

Sumber : milis tetangga

read more >>

Semangkuk Bakmi Panas

Kisah ini mengingatkan kita semua untuk bisa lebih menyayangi orangtua kita, seperti Tuhan Yesus yang begitu menghormati ibunya, Bunda Maria.
Dalam kitab Amsal juga mengajari kita bersikap terhadap orang tua,
Amsal 22:23 : Dengarkanlah ayahmu yang memperanakkan engkau, dan janganlah menghina ibumu kalau dia sudah tua.
Amsal 22:25 : Biarlah ayahmu dan ibumu bersukacita, biarlah beria-ria dia yang melahirkan engkau.

Pada malam itu Ana bertengkar dengan ibunya. Karena sangat marah, Ana segera meninggalkan rumah tanpa membawa apapun. Saat berjalan di suatu jalan, ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tidak membawa uang. Saat menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah kedai bakmi dan ia mencium harumnya aroma masakan. Ia ingin sekali memesan semangkuk bakmi, tetapi ia tidak mempunyai uang. Pemilik kedai melihat Ana berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu berkata,"Nona, apakah engkau ingin memesan semangkuk bakmi?" Ya, tetapi aku tidak membawa uang “ jawab Ana dengan malu-malu. Tidak apa-apa aku akan mentraktirmu. " jawab si pemilik kedai,"Silahkan duduk, aku akan memasakkan bakmi untukmu".
Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi. Ana segera makan beberapa suap, kemudian air matanya mulai berlinang." Ada apa nona?" tanya si pemilik kedai."Tidak apa-apa aku hanya terharu.” jawab Ana sambil mengeringkan air matanya."Bahkan seorang yang baru kukenal pun memberi aku semangkuk bakmi!, tetapi ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi ke rumah. Kau seorang yang baru kukenal tetapi begitu peduli denganku dibandingkan dengan ibu kandungku sendiri." katanya kepada pemilik kedai.

Pemilik kedai itu setelah mendengar perkataan Ana menarik nafas panjang dan berkata "Nona mengapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah hal ini aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak bakmi dan nasi untukmu saat kau kecil sampai saat ini, mengapa kau tidak berterima kasih kepadanya? dan kau malah bertengkar dengannya.

"Ana terhenyak mendengar hal tersebut."Mengapa aku tidak berpikir tentang hal tersebut ? Untuk semangkuk bakmi dari orang yang baru kukenal, aku begitu berterima kasih tetapi kepada ibuku yang memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan kepedulianku kepadanya. Dan hanya karena persoalan sepele aku bertengkar dengannya.”Ana segera menghabiskan bakminya, lalu ia menguatkan dirinya untuk segera pulang kerumahnya. Saat berjalan ke rumah, ia memikirkan kata-kata yang harus diucapkan kepada ibunya. Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas. Ketika bertemu dengan Ana kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah : "Ana kau sudah pulang cepat masuklah aku telah menyiapkan makan malam dan makanlah dahulu sebelum kau tidur, makanan akan menjadi dingin jika kau tidak memakannya sekarang".

Pada saat itu Ana tidak dapat menahan tangisnya dan ia menangis dihadapan ibunya. Sekali waktu kita mungkin akan sangat berterima kasih kepada orang lain di sekitar kita untuk suatu pertolongan kecil yang diberikan kepada kita.Tetapi kepada orang yang sangat dekat dengan kita (keluarga), khususnya orang tua kita, kita harus ingat bahwa kita berterimakasih kepada mereka seumur hidup kita.

Sumber : Sony Chow

read more >>
 
Fisika untuk Semua© 2010 by L.Heri Isyono All rights reserved. Blogger Templates create by Deluxe Templates. WP by Masterplan